Narenda Wicaksono Ajak Developer Indonesia Rilis Game di Nokia Store

ITFest2011 2 e1320761892914 Narenda Wicaksono Ajak Developer Indonesia Rilis Game di Nokia Store

Nokia Indonesia masih gencar berusaha meyakinkan developer bahwa mengembangkan game untuk Nokia dan Nokia Store (tadinya Ovi Store) terhitung peluang bagus. Narenda Wicaksono, Developer Operation Manager Nokia Indonesia, menjelaskan alasannya.

Saya bertemu Narenda di Informatics Festival (IT Fest) 2011 yang digelar di Institut Teknologi Bandung (ITB) sore hari ini, setelah dia membawakan seminar How to Get Rich with Mobile Apps. Dia mengaku, pasar Indonesia bagi Nokia adalah yang terbesar kelima di dunia. Tak kurang dari 1.200 aplikasi–sebagian besar tentu saja game–yang dikembangkan oleh tak kurang dari 12 ribu developer Indonesia telah tercatat di Nokia Store. Para developer itu berasal dari berbagai kota, termasuk Yogya, Malang, Jakarta, walau yang terbanyak masih dari Bandung.

Kenapa harus sebaiknya merilis aplikasi dan game di Nokia Store?

”Nokia selalu mendorong developer supaya produk mereka sukses di seluruh dunia,” kata Narenda.

Untuk itu, Nokia menyiapkan dukungan infrastruktur. Nokia Store hingga kini telah menjadi gerbang ke 1,3 miliar orang pengguna Nokia. Di Indonesia boleh dikata app store ini termasuk yang terbesar, dengan 2,2 juta kunjungan per bulan. Demi kemudahan pembelian aplikasi, mereka bekerja sama dengan 3 operator telekomunikasi: Telkomsel, XL, dan Indosat. Pengguna tinggal mengakses Nokia Store lewat ponsel–asalkan memakai salah satu dari ketiga operator itu–kemudian mengunduh game yang dia inginkan. Harganya bervariasi mulai gratis hingga Rp 20.000.

Yang diperoleh developer adalah 70% net dari harga jual. Soal porsi untuk operator, mereka tidak perlu lagi memusingkannya.

Price point Nokia Store ada 5. Di Indonesia price point itu sebesar Rp 3.000, Rp 5.000, Rp 10.000, Rp 15.000, dan Rp 20.000. Katakanlah developer ingin merilis game di Nokia Store dengan price point kedua. Gamer pengguna Nokia di Indonesia–yang bisa mengakses Nokia Store lho ya–bisa membeli game itu seharga Rp 5.000. Sementara gamer di Eropa, misalnya, membeli game itu dengan price point ke-2 sesuai kurs negaranya. Lokalisasi ini supaya harga game sesuai dengan kemampuan beli pasar tiap negara. Yang tentunya tidak sama. ”Kalau beli game seharga dua euro, di sini jadi berapa tuh? Dua puluh lima ribu rupiah? Nggak bisa dong semua pasar dipukul rata,” jelas Narenda.

NarendaWicaksono e1320761236860 Narenda Wicaksono Ajak Developer Indonesia Rilis Game di Nokia Store

Narenda Wicaksono (yang memegang) bersama Nokia (yang dipegang). #eh

”Dua puluh ribu itu murah banget lho, Mas,” cetus saya dengan polosnya.

”Hloh, kita harus bicara multiplier. Harga itu terjangkau untuk pengguna ponsel, tapi tetap menghasilkan revenue besar untuk developer karena pengguna Nokia banyak sekali,” tukas Narenda.

Dia lantas memberikan data statistik sederhana. Developer Indonesia ”terlaris” di Nokia Store adalah Ind160, yang aplikasi theme-nya telah diunduh 18 juta kali sejak akhir Februari 2011.

Sayang tidak ada data soal game developer. Saya sendiri belum pernah menemukan kabar adanya game developer di Nokia Store yang telah mencapai, misalnya, lebih dari 1 juta unduhan.

NarendaWicaksono Toresto e1320761602495 Narenda Wicaksono Ajak Developer Indonesia Rilis Game di Nokia Store

Narenda Wicaksono bersama Richie Viando, Database Programmer Toresto (bukan game).

Sempat juga saya sampaikan kekhawatiran sejumlah teman game developer, yang mengaku operating system (OS) Nokia kurang jelas ekspektasi life span-nya. Tapi Narenda berpikiran beda. Menurutnya, saat mengembangkan game maupun aplikasi, bagi developer yang terpenting adalah tool, bukan OS. Belakangan Nokia Indonesia memang gencar menyosialisasikan Qt, software development kit (SDK) yang bisa dijalankan di desktop maupun beragam OS Nokia seperti Symbian, Meego, dan Windows Phone.

“Gini aja deh. Gameloft dan EA (Electronic Arts, red) yang sebesar itu, masing-masing memiliki 300 lebih portfolio di Nokia Store. Kalau ini bukan peluang menarik, kalau road map Nokia tidak jelas, masa mereka bisa sepercaya itu?” tutup Narenda.

Bagaimana menurut teman-teman game developer?

O ya, game favorit seorang Narenda Wicaksono adalah Smash Mania buatan Agate Studio. Game ini merupakan karya pertama dari Indonesia yang dikembangkan untuk Nokia dengan pengaplikasian teknologi augmented reality dan NFC (Near Field Communication).

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0 (from 0 votes)

Related posts:

  1. Road Play Kummara dan Agate di Bandung Ajak Indonesia Bermain
  2. Beragam Pembicara Hebat, Game Developer, dan Komunitas Game Ramaikan Indonesia Bermain
  3. Square Enix Cari Mobile Game dari Indonesia
  4. The Baconing di Mac App Store Hanya USD 9,99!
  5. Volunteer, Sukseskan Indonesia Bermain yuk!
Posted by Dian Ara | Dev Story, News

Leave a Reply