Indonesia Bermain, Serunya Main Ratusan Game Bareng Ribuan Orang

Ayo main! Indonesia Bermain berhasil mengajak ribuan orang main bareng dalam 2 hari saja. /Foto: Panitia Indonesia Bermain
Puncak acara Indonesia Bermain, ajang bermain bersama terbesar di Indonesia, telah berakhir. Bagaimana serunya?
Adalah Kummara Creative Studio dan Agate Studio, bersama Majalah Marketing dan AnimartDigi, dengan dukungan Nokia Indonesia, yang menggelar Indonesia Bermain. Dalam statistik, setidaknya 150 digital game (termasuk mobile game), 180 board game & card game, 15 publisher, dan 25 game developer meramaikannya.
Saya hadir di kedua hari, yaitu 22-23 Oktober 2011, dan menyaksikan ribuan orang berkumpul dan main bersama di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Bandung. Menurut panitia, ada setidaknya 8.000 pengunjung. Angka itu masih kurang dari target semula, yaitu 10.000 pengunjung. Tapi bagi saya, 2 hari itu adalah pengalaman menyenangkan yang takkan pernah terlupakan.
Indonesia Bermain digelar supaya makin banyak orang sadar akan pentingnya bermain. “Lewat bermain, kita bisa mendapatkan momen-momen pembelajaran dalam hidup, salah satunya memunculkan rasa pantang menyerah,” jelas Arief Widhiyasa, CEO Agate.
Suasana dan desain venue tampak menyenangkan. Ibarat terdampar di pulau penuh permainan, pengunjung disambut dermaga kayu di balik pintu masuk. Plus beberapa buah pelampung. Dari siang hingga sore, anak-anak maupun remaja bebas bermain di situ.
Hore, Penuh Mainan!
Di kiri-kanan dermaga ada 2 stan utama: Agate dan Kummara. Agate menyiapkan beberapa komputer supaya pengunjung bisa menikmati game-game buatan mereka. Tapi yang tampak lebih seru justru sesi pemotretan gratis bersama sejumlah karakter game. Sementara Kummara menghadirkan board game buatannya, termasuk Punakawan yang mereka rilis di ajang itu.
Di sayap barat dermaga berjejer stan-stan makanan. Beberapa penjual agak menyebalkan; mereka berusaha kelewat keras supaya pengunjung membeli dagangan mereka.
Di sayap timur dermaga ada salah satu daya tarik utama Indonesia Bermain. Puluhan game developer dan komunitas, baik komikus, animator, maupun gamer, berderet di situ. Masing-masing memamerkan karya. Karena keterbatasan waktu dan energi, saya hindari stan dengan game yang telah saya kenal sebelumnya. Justru stan yang memamerkan game atau prototype baru lebih memikat. Sebut saja Anantarupa Studios dengan flight racing terbarunya, Cobalt Haze–video gameplay-nya akan segera saya hadirkan di Atoh, btw. Ada pula Mintsphere yang memperkenalkan Trigger Knight, yang akan segera mereka rilis di iOS. Juga Hobbyline yang tabletop-nya nyaris tak pernah sepi. Dan masih banyak lagi!
Dengan harga tiket masuk cuma Rp 10 ribu, pengunjung bebas main semua game yang ada. Tapi yang mengundang keramaian luar biasa adalah 4 mesin arcade A-box buatan Logika Interaktif.
Di sayap ini juga ada playground khusus keluarga anak-anak. Selain board game, ada pula hamparan pasir.
Anak-anak berusia balita tentu senang bermain-main dengan pasir. Tapi ayah mereka? Belum tentu. Arie Prasetyo, misalnya, mengaku malas main di situ. Dia lantas mengajak putri balitanya ke auditorium, di mana dia bisa menikmati game-game favoritnya, yang tentu saja tidak cocok untuk putrinya. Panitia perlu mempertimbangkan permainan yang bisa dimainkan segala usia. Mungkin dengan dongeng boneka? Atau menyebar lebih banyak board game yang bisa dimainkan seluruh anggota keluarga?
Senangnya Main Ramai-Ramai
Bicara soal auditorium, sebenarnya inilah daya tarik utama Indonesia Bermain. Kepadatan pengunjung terpusat di situ. Nokia Indonesia menyediakan mobil dengan monitor besar dan beberapa komputer. Game andalan Creacle, Arjuna Memanah, dan game buatan Yuandra Ismiraldi, School Escape, tentu tak ketinggalan.
Di dekatnya ada lapangan bulutangkis mini, di mana pengunjung bisa main Smash Mania, game yang mendukung Near Field Communication (NFC) dan dimainkan dengan mengayunkan ponsel Nokia. Walau bagi beberapa orang, saya yakin 2 gadis cantik yang mendemokan game itu jauh lebih menarik, hahaha…
Selain Nokia, ada pula beberapa stan berukuran lebih besar ketimbang stan-stan di sayap. Mereka tak mau kalah berusaha memikat pengunjung. Sebuah kafe game di Bandung menghadirkan PlayStation 3 dan Nintendo Wii. Menjelang siang pengunjung tampak antre hanya untuk menikmati Just Dance, yang memang seru dimainkan beramai-ramai. Stan produk wafer menyediakan Xbox 360 dan Kinect. Tapi pengunjung harus beli produknya seharga Rp 15 ribu untuk mencicipi Kinect. Agak saya sayangkan, mengingat janji Indonesia Bermain sesungguhnya, ”Bayar Rp 10 ribu (tiket masuk) saja untuk main sepuasnya.” Apalagi usai trenyuh mendengar pengakuan mahasiswi dari Depok, Riska Restyani. ”Ternyata main Wii (Just Dance, red) seru ya. Saya tidak pernah punya konsol di rumah, baru kali ini menyentuh yang namanya Wii.”
Di tengah auditorium ada panggung besar. Ditata menyerupai gunung berapi, lengkap dengan semburat lahar. Sayangnya, panggung semegah itu tidak terlalu berguna selain untuk acara pembukaan dan penutupan. Saya setuju dengan komentar Ade Anom, programmer Menara Games. Dia berharap panggung itu, ketimbang mubazir, dimanfaatkan lebih banyak. Mungkin untuk para game developer yang ingin memamerkan trailer karya mereka? Atau penyerahan hadiah turnamen dan award? Berharap bisa menikmati pertunjukan epik seperti itu boleh dong ya.
“Surga” bagi Gamer
Sisi barat auditorium dipenuhi belasan meja dan puluhan kursi. Area ini boleh dikata ”surga” bagi pecinta board game dan trading card game (TCG). Indo Board Games menghadirkan setidaknya 15 koleksi. Lima anggotanya pun siap mengajari pengunjung yang belum pernah main board game. Bushiroad dari Jepang dan komunitas penggemar Vanguard menghadirkan beragam titel TCG, termasuk Weiss Schwarz. Turnamen Vanguard, Weiss Schwarz, dan Magic: The Gathering pun sempat digelar.
Kalau diperhatikan lebih seksama, meja-meja TCG ”dikuasai” mereka yang memang mencintai genre itu. Wajar. Memahami TCG butuh waktu, sementara board game bisa dipelajari siapa saja, bahkan sambil langsung main.
Menjelang pukul 3 sore di hari pertama, meja-meja itu penuh. Mengagumkan!
Di sisi timur auditorium ada puluhan komputer untuk turnamen. Di situlah turnamen Pro Evolution Soccer 2012, Plants vs Zombies, dan Zuma digelar. Untungnya, saya sempat ikut turnamen Plants vs Zombies. Sialnya, saya kalah.
Masih Butuh Pembenahan
Melangkah ke belakang auditorium, ada 2 ruang layaknya ruang kuliah. Dengan OHP dan kursi-kursi. Konferensi berlangsung di situ. Beragam pembicara dari berbagai latar belakang hadir untuk berbagi ilmu dan pengalaman di dunia game development. Mulai dari Frida Dwi (UB Games), Sumyandityo Noor (Guava Games), hingga sang raja ding dong Bullitt Sesariza (Logika Interaktif). Ada pula dr. Irzan Nurman yang menjelaskan positifnya bermain dari aspek kesehatan. Para game developer dari Surabaya, Jakarta, Yogyakarta, Tangerang, maupun Bandung yang bergabung dalam komunitas GameDevID sempat saling pamer karya, tapi sayangnya sesi ini terlewat dari pantauan saya.
Jadwal Indonesia Bermain memang lumayan berantakan. Pembukaan acara yang menghadirkan wali kota Bandung, Dada Rosada, molor hingga 2 jam. Beberapa pembicara seperti Ary Setijadi (periset game dari ITB), Telegraph (studio yang mengembangkan Nusantara Online), dan Garasi Detik, entah kenapa malah batal. Banyak sesi konferensi yang bergeser waktunya, sampai-sampai Luna Lycoris (penulis Atoh) kebingungan mengatur jadwal peliputan. Perencana keuangan Aidil Akbar Madjid pun terpaksa digantikan oleh asistennya, Budi Triadi Pratama, katanya lantaran jadwal yang mendadak berubah itu.
Sound system juga terasa mengganggu. Sempat saya mendengar pengumuman tentang anak yang terpisah dari orang tuanya, tapi terkubur oleh berisiknya musik dari berbagai stan. Pengumuman jadwal yang berubah pun tidak terdengar di sejumlah sudut venue, membuat saya ingin membelah diri demi tidak melewatkan informasi penting.
Patut dicatat pula keluhan seorang pengunjung yang sempat jadi korban pemalakan di area parkir Sabuga pada jam 6 sore hari pertama. Walau sudah membayar tiket parkir sebesar Rp 2 ribu, dia dipaksa oknum preman untuk memberikan ”uang keamanan”.
Untungnya, kehadiran wakil gubernur Jawa Barat Dede Yusuf pada sore hari pertama menghibur pengunjung. Dia berkeliling Sabuga, mencoba banyak permainan. Tampak tawa cerianya saat main Smash Mania. Juga antusiasmenya saat bertanya-tanya di stan Pojok Pendidikan, yang saat itu membawa board game khas Bandung, Bebentengan.

Wakil Gubernur Jawa Barat, Dede Yusuf, mengamati Bebentengan di stan Pojok Pendidikan. /Foto: Panitia Indonesia Bermain
Pada sore hari kedua beberapa band menutup acara, termasuk Shanaroo dan Himitsu. Mereka tampilkan lagu-lagu berbahasa Jepang, termasuk game original soundtrack (OST). Tapi applause saya berikan khusus untuk Agate Accoustic, yang di bawah pimpinan game composer kawakan Adrian Benn sanggup membangkitkan emosi penonton.
Simpulan
Indonesia Bermain yang baru digelar untuk pertama kalinya ini relatif sukses. Game developer bisa bertemu sambil bertukar ilmu dan kisah. Komunitas gamer bisa menjalin persahabatan lebih erat. Pengunjung yang hadir dengan teman-teman atau keluarganya memperoleh hiburan murah meriah. Positifnya bermain, seperti yang jadi tujuan ajang ini, saya harapkan bisa mulai diaplikasikan oleh tiap keluarga maupun institusi pendidikan yang lebih besar. Kalaupun ada sejumlah komplain kritik membangun penuh sayang dalam artikel ini, saya yakin panitia bisa menggelar Indonesia Bermain berikutnya dengan lebih baik.
Pesan saya khusus buat Eko Nugroho, Chief Organizer Indonesia Bermain sekaligus CEO Kummara: Bagaimana kalau Indonesia Bermain tahun depan digelar 7 hari nonstop, Mas?
*ditabok sendal jepit*
Kredit foto: Dian Ara, Luna Lycoris
Disclaimer: Atoh adalah media partner Indonesia Bermain.
Related posts:
- Peta dan Jadwal Indonesia Bermain
- Road Play Kummara dan Agate di Bandung Ajak Indonesia Bermain
- Pendaftaran Kompetisi Ide Game Indonesia Bermain Tinggal 10 Hari!
- Volunteer, Sukseskan Indonesia Bermain yuk!
- Kuis Atoh: Tiket Gratis Indonesia Bermain untuk Yang Kreatif














26 Oct 2011, 12:35 am
kalo 7 hari, bisa ganti kaki sama kakinya robocop TT__TT
26 Oct 2011, 7:57 am
kalau di arena pasir ada SPG nya, mungkin lain kali saya ngajak putri saya maen di situ…
27 Oct 2011, 5:32 pm
[...] kemarin saya mengulas panjang lebar Indonesia Bermain, kini izinkan saya memuat foto-foto yang saya dan Luna Lycoris ambil sepanjang ajang itu di Sasana [...]
28 Oct 2011, 8:16 am
woh mantap! seru bangedz indonesia bermain!
btw baru tau saya ada tragedi pemalakan XDXDXD
02 Nov 2011, 8:10 pm
[...] ingat ajang puncak Indonesia Bermain yang digelar Kummara Creative Studio dan Agate Studio di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Bandung [...]
07 Nov 2011, 12:24 pm
Wah ulasannya menarik, dan sangat objektif…
kebetulan saya volunteer ne, jadi mau konfirmasi beberapa hal demi nama baik Mas Eko, ha-ha-ha
klo yg jadwal molor itu setau saya kami ngikutin jadwalnya Pak Walikota, klo beliau belum membuka ya memang jadwal lain ditunda dulu…
trs klo Mas Aidil itu ga dateng katanya karena beliau sakit, jadi terpaksa deh diganti sama asistennya…
overall, makasih buat masukannya
16 Mar 2012, 5:04 pm
[...] game developer di Bandung terus berusaha mengampanyekan positifnya game dan bermain. Setelah Indonesia Bermain, kini ada [...]