Menara Games baru merilis flash game bertitel Demonrift TD. Saya, yang selalu lemah iman terhadap tower defense, tentu langsung memainkannya. Dan mendadak cinta!
Demonrift TD sedikit berbeda dari kebanyakan tower defense. Ada turn-based yang mewarnainya, menjadikan gerak saya makin terbatas, dan strategi ganda harus saya terapkan. Menantang memang. Tapi di sinilah serunya!
Kisah Penuh Misteri Memikat
Plot Demonrift TD cukup menarik. Alkisah, Kingdom of Emaeron diserang iblis. King Imkael sang raja terbunuh dalam pertempuran.
Seluruh kerajaan hancur, tiap kota terancam diserang dan dikuras resource-nya. Satu saja harapan tersisa: Baroness Milena.
Dia sanggup bertahan. Untuk membalas dendam, dia harus memimpin pasukannya berkeliling Emaeron, mempertahankan tiap kota dari serangan para iblis, dan mencari akal untuk menghancurkan mereka.
Sejumlah misteri pun mulai terkuak…
Kalau kamu suka kedalaman cerita sebuah game, Demonrift TD boleh jadi akan kamu sukai.
Gameplay Unik
Kita anggap saja 1 kota mewakili 1 level. Musuh datang dalam wave (gelombang). Tiap wave mewakili 1 jenis unit musuh, tapi jumlahnya beragam tergantung tingkat kesulitan level.
Saya harus membangun pos-pos pasukan di lokasi strategis; ada kotak-kotak kecil yang menandai lokasi di mana saya boleh membangunnya. Satu pos mewakili 1 unit pasukan. Ada 2 pos yang bisa saya bangun di level-level awal: Swordman yang murah tapi kurang kuat, dan Archer yang memiliki range serangan lebih luas dan satu-satunya unit yang bisa menyerang musuh terbang. Usai upgrade lewat Training Camp, muncul 2 pos tambahan: Knight yang lebih kuat dan agile ketimbang Swordman, dan Tor yang–bagai tank–memiliki armor paling kuat tapi geraknya lamban.
Tiap membangun atau meng-upgrade pos, butuh sejumlah Command Point–besarnya tergantung unit pasukan saya. Command Point bertambah perlahan seiring waktu, tapi ada bonus untuk tiap unit musuh terbunuh.
Pos juga bisa saya upgrade hingga 2 kali. Tiap upgrade memberikan 1 unit pasukan tambahan. Artinya saya bisa memiliki maksimal 3 unit di tiap pos. Hati-hati, upgrade pos lebih mahal ketimbang membangun pos baru. Tapi di level tertentu, karena desain maze yang cerdas (dan bikin gemas!), upgrade pos mungkin lebih efektif.
Sayangnya tidak ada upgrade–misalnya kekuatan atau kecepatan–untuk tiap unit di tengah pertempuran. Upgrade itu hanya bisa saya lakukan lewat Training Camp, yang bisa saya akses lewat Level Menu.
Upgrade di Training Camp untuk membeli 2 pos tambahan, atau memperkuat pos-pos yang telah ada. Ada 3 kali upgrade untuk 12 kebutuhan. Tiap upgrade butuh resource: Gold, Iron, dan Crystal. Dari mana saya memperolehnya? Menangkan pertempuran di tiap level!
Tiap upgrade di Training Camp, membangun bangunan di kota, maupun memainkan sebuah level, butuh 1 Action Point (AP). Default-nya, saya punya 2 AP. Kalau AP habis, saya harus klik End Turn. Hasilnya: salah satu kota diserang, atau saya peroleh resource tambahan. Kalau kota diserang, menang atau kalahnya tergantung bangunan apa yang telah saya bangun di kota itu. Ada 6 bangunan: Tower, Stronghold, Barrack, Mine, Stable, dan Workshop; tiap bangunan memiliki fungsi masing-masing. Kalau kota diserang dan kalah, saya kehilangan resource. Saya bisa saja merelakan sedikit resource untuk mempertahankan kota dari serangan. Tapi karena jumlahnya tidak terlalu beda dengan risiko kalah, saya biasanya menolak memberikan resource (iya, saya jenderal pelit, bodo ah!).
Menang atau kalah dalam pertempuran diukur dengan Defense Point. Ada 20 Defense Point, dan berkurang per unit musuh yang bisa menyeberangi peta dan memasuki Cave/Shrine. Kalau Defense Point habis sebelum level berakhir, saya kalah. Kalau menang, jumlah tersisa Defense Point menentukan besarnya resource yang saya terima.
Saya bisa mengulang level. Ini bisa jadi taktik menabung resource, yang ternyata saya butuhkan untuk menghadapi level-level terakhir.
Artwork Demonrift TD layak diacungi jempol. Desain unitnya lucu-lucu. Saya jadi ingat salah satu game iOS favorit, Knights Onrush. Menyenangkan ya kalau kita berlagak jadi jenderal, dan memainkan pasukan berbadan gundhek-gundhek (dalam bahasa Jawa, artinya cebol tambun). Peta juga cantik, dengan detail apik. Desain maze keren. Dan musiknya cocok walau saya berharap ada variasi untuk level tertentu.
Tapi Demonrift TD adalah tower defense yang butuh strategi mantap, jadi–ahem–izinkan saya ngomel sedikit…
Tidak Ada Manual dan Rekam Kisah
Pertama, manual mana manual?! Tidak semua orang siap main sebuah game sepanjang 20 level hingga tamat tanpa jeda. Ada juga yang mungkin main lagi setelah jeda beberapa minggu, atau bahkan beberapa bulan. Bagaimana kalau lupa akan petunjuknya? Harus ulang dari awal?
Manual yang saya maksud ini bukan hanya tutorial. Mengingat plot yang disuguhkan sungguh menarik, sayang kalau tidak ada rekam kisah. Bisa saja, misalnya, ada bangunan tambahan. Mungkin History Center? Kalau saya akses bangunan itu, terlihat scene-scene percakapan sang Baroness, Warden, Scribe, dan lainnya. Update di sini tentu mengikuti game progress saya.
Archer dan Swordman Anak Kembar?!
Beberapa hal soal UI juga cukup mengganggu. Pertama, warna seragam pasukan tidak terlalu berbeda. Kadang saya bingung membedakan Archer dan Swordman. Kedua, pos usai upgrade hanya ditandai dengan angka romawi mungil. Akan lebih baik kalau ukuran pos diperbesar, atau diubah warnanya. Dalam pertempuran bantuan visual apa pun semoga bisa mengurangi panik.
I’m Blind! I’m Blind!
Juga, tidak adanya opsi untuk mengakses Great Library (pusat info unit) saat bertempur itu menyebalkan. Masa saya harus Surrender hanya lantaran lupa seberapa kuat dan cepat Red Ripper sialan itu? Knowledge on enemies is crucial in every war strategy, tapi kalau saya sampai harus mencetak info tentang unit musuh dan menempelnya di dinding, tega pisan euy.
Saya juga berharap, usai membangun pos, unit pasukan langsung muncul. Buat apa jeda 5 detik? Tidak adil rasanya kalau ini jadi tantangan tambahan, apalagi di level-level terakhir musuh yang muncul di wave pertama bujug amit-amit kuat dan cepatnya.
Selain itu, tidak ada health bar di atas kepala unit pasukan. Saya butuh tahu lho kapan di sebelah mana saatnya membangun pos yang pas. Tanpa health bar, saya bisa saja membangun pos di dekat pos yang saya kira sedang sekarat, padahal ternyata segar bugar, sementara Command Point menipis, Archer kadang bandel tidak mau memanah musuh yang beterbangan, dan di garis lain musuh sebesar Bagong mulai berdatangan…
Pokoknya Seru!
Aaarrrggghhhhh… Menulis paragraf barusan membuat saya kangen game ini. Masih ada 3 level terakhir yang harus saya mainkan! Harus! Yuk! Mainkan Demonrift TD buatan Menara Games GRATIS di Kongregate atau Newgrounds.
Kalau mau ikut ngomel, boleh ke Facebook page Demonrift TD. Atau ke situs Menara Games. Kalau suka, jangan lupa sisihkan sedikit uang untuk donasi. Biar mereka makin semangat mengembangkan game seru ini. Sssttt, katanya akan hadir portasinya untuk iOS lho.
Spesifikasi
Judul: Demonrift TD
Genre: Tower Defense, Turn Based Strategy
Developer: Menara Games
Publisher: Menara Games
Designer: Satya Hody, Christian Senjaya
Programmer: Ade Anom Arimbowo, Christian Senjaya
Artwork: Satya Hody, Puri Andini
Music/Sound FX Composer: Tony Sugianto
Platform: Flash
Harga: GRATIS
No related posts.












08 Oct 2011, 11:42 am
yang sudah main gamenya, ikut kasih rating ya…
di pojok kanan atas, pada bagian bawah, temen2 bisa ikut kasih rating.
ditungguuu
11 Oct 2011, 6:51 am
Keren euy
adiktif. Kalo maen di Kongregate bisa di save progressnya.
11 Oct 2011, 7:06 am
Yep, saya juga lebih suka main di Kongregate. XD
Deeem, kangen lagi, hahaha…
Dan… IYA KAN?! Adiktif kaaan?!
02 Nov 2011, 1:22 pm
atoh cihuy…..
22 Nov 2011, 11:30 am
Seru2, cukup mengobati kekangenan bermain TD yang seru. Di awal dan di tengah game relatif mudah, paling untuk 3 level terakhir cukup menantang walau masih cukup mudah di-counter dengan full upgrade (TOR terlalu OP
). Dan ya, lebih baik main di Kongregate agar bisa di-save progressnya.
06 Jan 2012, 11:04 pm
[...] beberapa game yang telah saya coba lewat Kongregate Arcade, salah satunya adalah Demonrift TD, turn-based strategy tower defense buatan Menara Games. Gameplay tetap sama, hanya saja kontrol berubah: mouse click jadi tap. Tapi berhubung peta dalam [...]
16 Mar 2012, 9:27 pm
[...] bagaimana studio game di Bandung seperti Menara Games bisa melahirkan tower defense sekeren Demonrift TD? Atau bagaimana perkembangan Hajinguk Project di Yogya? Datang yuk. Ngobrol langsung dengan game [...]