Ada beragam label impresi yang bisa saya sematkan ke Trauma. Hidden object menantang? Jelas. Eksplorasi foto panorama memikat? Yep. Point-and-click puzzle yang menuntut konsentrasi penuh selama berjam-jam? Boleh. Toh, semua impresi itu berujung di satu simpul: Game buatan indie developer dari Jerman, Krystian Majewski, ini menawarkan pengalaman interaktif sureal yang kelewat unik.
Trauma dikembangkan sejak 2008 dengan engine berbasis Flash, Papervision3D. Engine ini mestinya menguras performa saat resolusi diperbesar. Tapi Majewski berhasil mengatasi tantangan itu. Saya main Trauma dalam full screen mode, dan tetap merasa nyaman.
Kenapa ini penting?
Trauma adalah game yang mengandalkan elemen visual fotografi. Dunianya terbentuk dari fragmen-fragmen panorama yang terlihat nyata. Dengan objek nyata maupun tidak. Pepohonan, jalan tol, rel kereta, gedung, dan semak belukar menyatu dengan sel darah, sphere berukir, dan simbol-simbol aneh berwarna neon di tengah environment bernuansa sepi dan kelam. Ditambah musik dan efek suara karya Martin Straka, serta kalimat-kalimat nostalgik dari bibir Anja Jazeschann yang beraksen unik, beragam emosi sontak terpancing keluar.
Alkisah, dunia itu merupakan memori mimpi. Mimpi seorang perempuan muda yang baru mengalami kecelakaan. Lewat memori yang terpecah dalam puluhan fragmen foto panorama itu saya harus menemukan identitas dan masa lalunya.
Ada 4 mimpi–sebut saja level–dalam Trauma. Tiap level bisa saya akses secara terpisah, tidak harus konsekutif. Saya menjelajah tiap level menggunakan gesture-based interface. Saya bisa klik kanan, kiri, atas, bawah. Kadang juga perlu berbalik lantas melangkah ke depan.
Untuk mempermudah navigasi, ada gesture; tinggal saya gambarkan simbol tertentu di fragmen yang tepat. Menggambar simbol pada objek tertentu bisa menghadirkan cutscene. Pertanda saya telah menemukan ending.
Ada 4 ending utama dan 12 ending alternatif. Untuk menemukannya, saya dibantu 36 foto polaroid. Polaroid itu tersebar di keempat level, dan berdasarkan fungsinya terbagi jadi 3 macam: petunjuk gesture navigasi, petunjuk untuk menemukan ending, dan pembentuk storyline. Voice over sang karakter mengiringi tiap polaroid, menjelaskannya lebih jauh.
Ini salah satu keunikan Trauma. Majewski tidak merancang menu bantuan untuk versi offline yang saya mainkan. Petunjuk harus saya cari sendiri sambil bermain. Karena lokasinya tersebar, boleh jadi saya menemukan petunjuk ending sebelum petunjuk navigasi. Artinya, mungkin saja ketemu ending sebelum tahu cara berputar!
Di menit-menit pertama rasanya membingungkan. Bagai meraba-raba dalam gelap. Tapi justru itulah yang Majewski inginkan: Menghadirkan dunia mimpi yang bisa saya dan kamu nikmati tanpa memejamkan mata. Tidak ada yang mengajari kita ke mana harus melangkah dan bagaimana cara menoleh di tengah mimpi kan?
Di sisi lain, Trauma tetap saja point-and-click. Tinggal gerakkan mouse secara random, saya akan temukan bagian yang bisa diklik, lantas pindah ke fragmen lain. Setidaknya sampai saya temukan polaroid.
Perburuan polaroid ini, akibat akses level yang tidak konsekutif, membuat saya menemukan 3 polaroid–semuanya petunjuk navigasi–berulang-ulang, hingga 4 kali. Sempat terasa redundan dan agak membosankan.
Masalah yang disajikan Trauma juga tidak sekompleks puzzle lain. Pun pemecahannya. Hanya butuh kesabaran menjelajah. Saya tertekan, kesepian, bingung, bahkan frustrasi saat berputar-putar demi mencari polaroid yang tersisa hanya 1. Tapi tidak terasa, 2 jam berlalu. Begitu selesai, saya mendadak sadar: Itu bukan mimpi saya. Itu mimpi orang lain. Yang tidak saya kenal!
Tentu ada banyak game yang menawarkan kedalaman kisah dan emosi. Juga yang menawarkan interaksi unik dengan desain level dinamis. Tapi dari ranah hidden object? Cukup langka. Trauma salah satunya. Jujur, saya berharap di pengembangan mendatang ada versi untuk perangkat touchscreen. Atau Wave. Atau bahkan Kinect.
Kalau kamu suka genre ini, apalagi punya kesabaran ekstra dan kemampuan ruang oke untuk bernavigasi di kegelapan, game yang menyabet 3 nominasi–Audio, Visual Design, dan Seumas McNally Grand Prize–di Independent Games Festival 2010 ini saya rekomendasikan. Versi gratis ada di situs resminya. Kamu butuh Flash, tentu saja.
Versi offline untuk Windows, Linux, dan Mac, dengan resolusi tinggi dan bebas DRM, bisa kamu peroleh dari situs resminya seharga minimal EUR 5. Atau lewat Steam seharga USD 6.99.
No related posts.












09 Aug 2011, 4:02 pm
wah baru abis maen game ini yah di steam mbak? :p
apa gak tekor nanti duitnya huhehuehe
keren juga ini kok, tadi abis liat trailernya seperti menjelajah google maps di 3D haha
kalo bisa review LIMBO dong, gamenya keren abis tuh
09 Aug 2011, 6:26 pm
Iya, Naufal. Baru main, kan emang baru dirilis. Tapi gak beli kok, kemaren dapet review copy dari Krystian Majewski.
Limbo… Pengen sih. Sayang platform-nya 360 dan Windows doang. Andai ada di Mac bisa langsung cobain, hahaha…
09 Aug 2011, 8:54 pm
ah dapet review copy? kok bisa :O
pengen dapet satu juga heheheh….
10 Aug 2011, 8:17 am
Beberapa jam sebelum rilis saya dikirimi kopinya, untuk di-review di Atoh. Sepertinya hanya untuk media. XD
21 Aug 2011, 9:35 pm
[...] bisa bikin stres juga Atau kalau ngga di review Dian Ara juga bisa di sini, ada SSnya juga Review Trauma | ATOH btw cek PM Originally Posted by iand3tenma Liat System Requirements nya…! Jangan [...]
14 Sep 2011, 9:59 am
Bisa maen gratis kok tanpa download dari steam. Langsung saja main versi online-nya di situs resminya: http://www.traumagame.com/
03 Oct 2011, 6:38 pm
[...] juga review Trauma di Atoh. VN:F [1.9.10_1130]Rating: 0 (from 0 votes)Related Posts :Final Fantasy Tactics: The War of the [...]
28 Dec 2011, 11:52 am
perlu di coba..